Beijing, IDN Times - Pemerintah Tiongkok memutuskan untuk menutup situs lokal Marriott setelah pihak jaringan hotel asal Amerika Serikat tersebut salah menyebut Tibet dan Hong Kong sebagai negara merdeka. Pemerintah dan publik tidak bisa terima karena menurut mereka Tibet dan Hong Kong adalah bagian dari wilayah Tiongkok.

1. Marriott mengaku tidak bermaksud mendukung gerakan separatis

Sebut Tibet dan Hong Kong Merdeka, Tiongkok Tutup Website MarriottAFP

Semua berawal ketika Marriott meminta pelanggan yang ikut program berhadiah untuk mencantumkan negara tempat tinggal mereka. Tibet, Hong Kong, Macau dan Taiwan dijadikan pilihan negara oleh Marriott. Situs lokal Marriott sudah selama seminggu ini ditutup oleh otoritas siber setempat.

Saat ini situs tersebut hanya menampilkan permintaan maaf. "Kami tak pernah mendukung organisasi separatis manapun yang merusak kedaulatan dan integritas teritorial Tiongkok. Kami sangat minta maaf atas sikap apapun yang akan menyebabkan kesalahpahaman tentang pendirian kami tersebut," tulis pihak Marriott.

Baca juga: Protes Pro Kemerdekaan Hong Kong Berakhir Ricuh

2. Petinggi Marriott menyampaikan surat permintaan maaf

Sebut Tibet dan Hong Kong Merdeka, Tiongkok Tutup Website MarriottAFP

Kemarahan pemerintah dan publik Tiongkok yang belum juga mereda meski sudah seminggu berlalu membuat presiden dan chief executive Marriott, Arne Sorensen, menyampaikan surat permintaan maaf.

"Marriott International menghormati dan mendukung kedaulatan dan integritas teritorial Tiongkok. Sayangnya, dua kali dalam seminggu, kami melakukan insiden yang mengesankan sebaliknya. Dengan hampir berakhirnya investigasi penuh atas bagaimana insiden tersebut terjadi, kami akan mengambil langkah disipliner yang diperlukan kepada individu-individu yang bersangkutan, yang termasuk pemecatan," tulis Sorensen, seperti dilansir dari AFP.

3. Tiongkok menegaskan bahwa perusahaan asing harus menghormati kedaulatan Tiongkok

Sebut Tibet dan Hong Kong Merdeka, Tiongkok Tutup Website MarriottAFP/Pool/Mark Schiefelbein

Pemerintah Tiongkok sendiri mengaku tengah menyelidiki apakah Marriott International menyalahi aturan keamanan siber dan periklanan. Sementara itu, kementerian luar negeri Tiongkok juga memberi tanggapan atas insiden tersebut.

"Kami membuka diri terhadap perusahaan-perusahaan asing yang berinvestasi dan beroperasi di Tiongkok, tapi mereka harus menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Tiongkok, menghormati hukum dan regulasi kami, sebagaimana juga perasaan masyarakat Tiongkok. Saya rasa ini adalah prinsip dasar untuk negara asing yang beroperasi dan berinvestasi di negara lain," ujar Lu Kang, juru bicara kementerian.

4. Pemerintah Tiongkok mengklaim wilayah-wilayah yang dipersoalkan tersebut

Sebut Tibet dan Hong Kong Merdeka, Tiongkok Tutup Website MarriottAFP/Anthony Wallace

Tibet adalah sebuah wilayah yang diklaim oleh pemerintah Tiongkok berada di dalam kekuasannya. Meski demikian, gerakan untuk mendirikan negara sendiri sangat terasa di wilayah itu. Sejumlah biksu bahkan membakar diri untuk memprotes opresi Tiongkok terhadap mereka. 

Sedangkan Hong Kong dan Macau merupakan bekas koloni Inggris serta Portugis. Kini, status keduanya adalah wilayah administratif khusus di bawah Tiongkok. Sejak beberapa tahun terakhir sudah ada masyarakat Hong Kong yang menuntut kemerdekaan.

Bahkan, beberapa aktivis pro-kemerdekaan ditahan kepolisian atas perintah Beijing. Sementara itu, Tiongkok tidak mengakui kemerdekaan Taiwan dan tetap menganggapnya sebagai bagian dari wilayahnya. 

Tiongkok sendiri memiliki Lima Prinsip Koeksistensi Damai yang bagian pertamanya mencantumkan "saling menghormati terhadap integritas dan kedaulatan teritorial masing-masing". Dengan kata lain, Tiongkok sangat keras bila ada yang berusaha untuk menentang prinsip tersebut, terutama jika datang dari entitas asing.

Baca juga: Disebut sebagai Ancaman, Tiongkok Sebut AS Bemental Kuno