Ngotot Reklamasi, Timses Ahok Tantang Anies Berikan Solusi Teluk Jakarta

Timses Ahok mantan petinggi Green Peace

Ngotot Reklamasi, Timses Ahok Tantang Anies Berikan Solusi Teluk Jakarta Nursita Sari/Kompas

Usai kalah dari kelompok nelayan dan organisasi lingkungan hidup di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada persidangan yang diselenggarakan Kamis (16/3), tim sukses pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat menggelar konferensi pers di Posko Pemenangan yang berlokasi di Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (17/3).

Seperti diketahui, pada Kamis (16/3), PTUN Jakarta mengetuk palu untuk memenangkan gugatan para nelayan yang menolak reklamasi. Konsekuensi dari putusan ini adalah PTUN mencabut pemberian izin untuk reklamasi di tiga pulau. Tiga pulau tersebut adalah Pulau F, I, dan K.

Timses Ahok-Djarot ngotot bahwa reklamasi adalah solusi satu-satunya untuk menyelamatkan Jakarta.

Juru bicara timses Ahok-Djarot, Emmy Hafild, mengaku reklamasi adalah cara satu-satunya untuk menyelamatkan Teluk Jakarta dan warga yang bermukim di kawasan Pantai Utara Jakarta. Bila reklamasi dihentikan, Emmy meyakini warga di sana akan berhadapan dengan bencana.

"Saat ini tidak ada (selain reklamasi) karena opsinya itu adalah masyarakat itu dipindahkan. Jadi ditinggalkan Pantai Utara Jakarta itu," kata Emmy, seperti dikutip dari Kompas. Pasalnya, abrasi menyebabkan tanah di kawasan Pantai Utara Jakarta berada 1,5 meter di bawah permukaan laut.

Baca Juga: Nelayan Menang Gugatan, SK Ahok Tentang Reklamasi 3 Pulau Dibatalkan

Emmy pun menantang calon gubernur Anies Baswedan untuk memberikan solusi alternatif bila menolak reklamasi.

Emmy menuding bahwa janji pasangan kandidat Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang akan menghentikan reklamasi hanya janji manis kampanye. Dikutip dari Tirto.id, Emmy menantang Anies untuk memberikan solusi alternatif bila benar-benar menolak reklamasi.

"Tanya sama Anies, kalau (reklamasi) dihentikan, alternatifnya apa?" Lebih lanjut, Emmy yakin penolakan Anies karena ia tak paham tentang reklamasi itu sendiri. "Dia mengatakan akan menghentikan reklamasi. Coba bisa gak dia, ngerti gak dia kasusnya, bisa gak hentikan kasusnya,"ujar Emmy. Ia menegaskan bahwa proyek reklamasi sebenarnya sudah direncanakan sejak 1972.

Emmy menggarisbawahi bahwa sejumlah izin sudah keluar sejak era Sutiyoso dan Fauzi Bowo. Pembatalan izin oleh PTUN, kata Emmy, hanya terkait izin operasional sehingga bila ada izin baru proyek akan dilanjutkan.

Warga di sekitar Pantai Utara terancam bencana dari tiga sudut.

Wilayah bagian utara ibu kota ini mengalami penurunan permukaan tanah hingga 25 cm per tahun. Bahkan pada 2025 bisa tenggelam hingga sekitar 2,5 meter di bawah permukaan laut. Karena kondisi genting ini, Emmy menyatakan ancaman bencana itu nyata. Mantan Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara ini menyebut bencana datang dari tiga sudut.

"Bencana air bah dari laut karena banjir rob, karena air sungai enggak bisa masuk laut karena udah lebih rendah dari laut, dan bencana akibat pencemaran bahan berbahaya dan beracun," ujar Emmy. Karena masyarakat harus dipindahkan, maka reklamasi menjadi jalan keluar.

"Jadi, reklamasi adalah bagian dari rencana untuk membuat pemukiman yang baru dan layak, dan terhindar dari ketiga bencana itu semua," lanjut Emmy, merujuk pada rencana gubernur petahana Ahok soal salah satu pembangunan di Pulau G.

Menurut mantan Direktur Eksekutif Walhi ini dana dari pengembang bisa digunakan untuk memperbaiki Teluk Jakarta.

reklamasi-4-9b3bd5630df61b27f221b15060ca8eff.jpgDedhez Anggara/ANTARA FOTO

Emmy mengklaim warga Jakarta justru akan memperoleh keuntungan dari reklamasi. "Perumahan, nelayan, dan pelabuhan modern. Itu yang diinginkan gubernur. Berita nelayan disingkirkan, itu tidak ada," tegas Emmy, membantah kabar reklamasi hanya menguntungkan segelintir orang kaya.

Emmy juga menyebut bahwa pemerintah mendapatkan dana dari pengembang yang terlibat reklamasi di mana dana itu dimanfaatkan untuk memperbaiki Pantai Utara dan Teluk Jakarta melalui penanaman hutan bakau.

Pihak Ahok-Djarot meyakini pencemaran di kedua titik itu sudah sangat parah sehingga harus segera ditangani. Ia mencontohkan bahwa di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, kondisi perairan sangat kritis dengan warna coklat dan keruh. Maka, pihaknya tetap memegang teguh keyakinan reklamasi harus dilanjutkan.

Baca Juga: Solusi Banjir yang Ditawarkan Cagub-Cawagub untuk Menyelamatkan Jakarta!

Read More

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?

  • Vote Senang Vote
    Senang 60%
  • Vote Sedih Vote
    Sedih 20%
  • Vote Terhibur Vote
    Terhibur 0%
  • Vote Marah Vote
    Marah 20%
  • Vote Kaget Vote
    Kaget 0%
  • Vote Terinspirasi Vote
    Terinspirasi 0%
ARTIKEL TERKINI