Seruan Pemuka Agama Dunia: Kita Semua Bersaudara

"Jangan fokus mencari perbedaan."

Seruan Pemuka Agama Dunia: Kita Semua BersaudaraElijah Interfaith Institute

Line IDN Times

Tak semua orang bisa melihat bahwa perbedaan agama bukan berarti dunia harus terpecah berdasarkan siapa yang lebih berhak masuk ke surga. Hanya Tuhan sendiri yang memiliki otoritas untuk memutuskan siapa yang boleh ke surga, bukan manusia.

Mulai dari Dalai Lama hingga Paus Fransiskus menekankan pentingnya persaudaraan antar umat beragama.

Karena urusan surga adalah hak penuh dari Tuhan, maka tugas manusia adalah selalu berbuat baik kepada sesama tanpa memandang apakah ia memiliki agama yang berbeda atau tidak. Untuk menguatkan ini, para pemuka agama top dunia mengirimkan sebuah pesan bersama yang sangat langka.

Dalam sebuah video yang dibuat oleh Elijah Interfaith Institute, sejumlah tokoh spiritual seperti pemimpin agama Katolik Paus Fransiskus, pemimpin kelompok biksu Tibet Dalai Lama, serta ulama Muslim Shia Ayatollah Sayyid Fadhel Al-Milani, menyatukan suara dan pandangan mereka terkait perdamaian.

Pesan mereka satu: bersaudaralah dengan orang-orang dari kepercayaan lain. Paus Fransiskus sendiri menceritakan sedikit tentang persahabatannya dengan pemimpin Yahudi, Rabbi Abraham Skorka. "Kehidupan beragamaku jauh lebih kaya dengan penjelasan-penjelasan darinya. Dan aku rasa hal yang sama juga dirasakannya," ucapnya.

Imam Besar Shawki Allam dari Mesir pun turut menyampaikan pesannya. "Jangan fokus mencari perbedaan-perbedaan antara kelompok-kelompok keagamaan." Kemudian, Dalai Lama melanjutkan dengan berkata,"Kontak personal, persahabatan personal, kemudian kita bisa bertukar pengalaman di level yang jauh lebih dalam."

Baca Juga: 7 Kebijaksanaan yang Harus Dimiliki Semua Orang Agar Indonesia Lebih Damai

Sangat penting bagi para pemuka agama dunia untuk mengajak umat beragama bersatu dalam kasih.

Direktur Elijah Interfaith Institute, Rabbi Dr. Alon Goshen-Gottstein, mengaku peluncuran pernyataan bersama ini ditujukan untuk memberikan sudut pandang teologis yang baru terkait kehidupan antar umat beragama.

"Kita tak bisa menyangkal bahwa dalam kitab suci dari banyak agama, Anda bisa menemukan tulisan-tulisan yang tak begitu terbuka, bahkan memusuhi, terhadap orang-orang dari agama lain. Oleh karena itu, ketika para pemimpin agama dunia mengajak membangun persahabatan, mereka menegaskan cara tertentu untuk mempraktikkan agama dan menolak yang lain (yang bukan praktik keagamaan)."

Baca Juga: Tumbuh di Lingkungan Multi Ras & Agama, Saya Belajar Tenggang Rasa 

Read More
Line IDN Times
ARTIKEL REKOMENDASI