Nasib Al-Fatah Usai Ditutup: Masih Ada Niatan dari Warga Transgender

Mereka tetap semangat belajar Quran

Nasib Al-Fatah Usai Ditutup: Masih Ada Niatan dari Warga TransgenderKemal Jufri / nytimes.com

Line IDN Times

Agama pasti mengajarkan kita untuk berbuat baik. Agama ingin kita memahami, menafsirkan dan mempraktikkan ajaran positif yang ada di dalamnya. Namun, kesempatan untuk belajar tersebut justru dibatasi oleh banyak orang. Pembatasan ini bukan hanya pada gender lagi, tapi diskriminasi terhadap transgender.

Seperti yang kita ketahui, pada Februari 2016 kemarin, Pesantren Al-Fatah di Yogyakarta ditutup paksa oleh Front Jihad Islam (FJI). Seperti dilansir Thejakartapost.com, pesantren di wilayah Kotagede ini dikenal sebagai satu-satunya tempat yang mau menerima warga transgender di Yogyakarta.

Saat itu, komandan FJI, Abu Hamdan mengatakan kalau pihaknya ingin meluruskan pesantren yang dianggap 'tidak di jalan yang benar'. Pada pesantren yang terbentuk pada 2008 ini telah didukung oleh Universitas Nahdlatul Ulama di Jepara, Jawa Tengah. Dalam pesantren ini sendiri diterima berbagai kalangan, termasuk transgender.

Al-Fatah untuk belajar Al-Quran.

Al-Fatah memberikan pelajaran membaca Al-Quran dan shalat. Mereka tidak memandang atau membeda-bedakan. Justru FJI sendiri yang menganggap kalau warga transgender harus segera kembali ke 'jalan yang benar'.

Baca Juga: Inilah Asyiknya Hidup Para Cewek yang Punya Sahabat Cowok Gay!

Sayangnya, ketika Indonesia masih meributkan masalah Indonesia masih ributkan masalah transgender, dunia mempertanyakan niat mereka untuk tetap belajar Al-Quran.

Nasib Al-Fatah kini.

South China Morning Post atauSCMP.comyang mengutip AFP memberitakan bagaimana nasib pesantren ini sekarang. Masih berlokasi di Kotagede ini lebih sepi sejak ditutup. Rumah besar dengan model joglo ini ternyata masih menerima mereka yang mau berdoa dan belajar mengaji. Al-Fatah masih punya tiga ustadz yang melanjutkan program mereka untuk mengajar.

Meski telah ditekan untuk tidak beroperasi, masih ada belasan murid transgender yang datang. Jumlah ini memang berkurang dari 42 transgender sejak Februari silam. Ruangan utama masih menjadi lokasi pembelajaran, meski begitu lebih banyak dari mereka belajar untuk mengaji.

Salah satu ustadz, Arif Nuh Safri (32) mengatakan kalau semua orang punya hak untuk berdoa. Hal tersebut selalu dikatakan pada para transgender yang datang ke Al-Fatah. Menurut Arif, memang sulit saat ini bagi transgender untuk shalat di masjid umum karena stigma selama ini.

Selain itu, terdapat tanda pelarangan kegiatan belajar di sekitar pesantren Al-Fatah sejak ditutup. Pemimpin FJI Abdurahman mengatakan kalau pihaknya menganggap transgender adalah hal buruk dan tidak bisa ditoleransi.

Meski pelarangan dan stigma terkait transgender telah terbentuk, pihak kepolisian mengatakan kalau Yogyakarta masih menjadi kota toleran.

Baca Juga: 13 Komentar yang Nggak Perlu Kamu Katakan kepada Kaum Homoseksual

Read More
Line IDN Times
ARTIKEL REKOMENDASI